Mengintegrasikan Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam Pelestarian Lingkungan
Palangka Raya, 7 September 2025- Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Kalimantan Tengah bekerja sama dengan Majelis Tabligh PWA Kalteng menyelenggarakan Pengajian Lingkungan dengan tema “Mengintegrasikan Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam Pelestarian Lingkungan”. Kegiatan yang berlangsung pada Ahad, 7 September 2025, bertempat di kediaman Dr. Misrita, sekretaris LLHPB PWA Kalteng, menghadirkan narasumber Ustadz Dr. Asep Sholihin.
Dalam kajiannya, Ustadz Asep menegaskan bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menuntun umat agar menjaga hubungan dengan sesama makhluk dan alam semesta. Lingkungan adalah amanah Allah SWT yang harus dirawat, dijaga, dan dimanfaatkan secara bijaksana.
Beliau menyampaikan tiga hadis Rasulullah SAW yang menekankan pentingnya pelestarian lingkungan melalui aktivitas menanam dan bercocok tanam:
1. “Tidaklah seorang muslim pun yang bercocok tanam atau menanam satu tanaman, lalu tanaman itu dimakan oleh burung, atau manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari)
2. “Tidaklah seorang muslim yang bercocok tanam, kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya, apa yang dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan binatang liar menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya, dan tidaklah seseorang mengambil darinya, melainkan ia menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim)
3. “Kendatipun hari kiamat akan terjadi, sementara di tangan salah seorang di antara kamu masih ada bibit pohon kurma, jika ia ingin hari kiamat tidak akan terjadi sebelum ia menanamnya, maka hendaklah ia menanamnya.” (HR. Bukhari)
Hadis-hadis ini menegaskan bahwa aktivitas menanam bukan sekadar kebutuhan hidup, tetapi juga bagian dari ibadah dan bentuk sedekah yang pahalanya terus mengalir. Bahkan, dalam kondisi kritis seperti menjelang kiamat, Nabi SAW tetap menganjurkan agar seorang muslim menanam pohon.
Esensi jannah (surga) dalam bahasa Arab bermakna kebun yang rindang. Hal ini menunjukkan betapa Islam menempatkan tanaman dan kebun sebagai simbol keberkahan, kedamaian, dan kelestarian hidup. Dengan menanam, seorang muslim bukan hanya memberi manfaat bagi dirinya, tetapi juga untuk burung, hewan, bahkan seluruh makhluk Allah.
Al-Qur’an pun menegaskan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
Pengajian ini kemudian ditutup dengan ajakan agar warga ‘Aisyiyah dan seluruh jamaah menjadikan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari dakwah Islam berkemajuan. Dengan meneladani Rasulullah SAW, umat Islam diharapkan mampu berkontribusi aktif menjaga bumi sebagai rumah bersama, sehingga tercipta kehidupan yang lebih berkah dan berkelanjutan.(sf)