Ust Rois Mahfud Kupas Tafsir Surah Hud Ayat 30 sampai 31 Dakwah Tidak Boleh Tunduk pada Tekanan Sosi
Palangka Raya , Selasa 29 Juli 2025- Dalam kajian ba’da Salat Subuh yang diadakan di Masjid Darul Arqom kompleks Perguruan Muhammadiyah Palangka Raya, Rois Mahfud menyampaikan pengajian tafsir Al-Qur’an dengan fokus pada Surah Hud ayat 30–31. Kajian ini menghadirkan pemahaman mendalam mengenai prinsip-prinsip keadilan dalam dakwah serta keteguhan Nabi Nuh dalam menghadapi tekanan sosial dan politik dari kaumnya.
“Dan wahai kaumku! Siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?” (QS. Hud: 30)
Ust. Rois Mahfud menjelaskan, ayat ini menggambarkan permintaan sombong dari para pemuka kaum Nabi Nuh yang enggan beriman karena melihat pengikut Nabi Nuh berasal dari kalangan yang lemah dan miskin. Mereka meminta agar orang-orang tersebut disingkirkan, dengan dalih status sosial mereka tidak pantas untuk menjadi bagian dari gerakan dakwah.
Namun, Nabi Nuh menolak permintaan ini dengan tegas. Ia mengatakan bahwa jika ia mengusir mereka, siapa yang dapat melindunginya dari murka Allah? Ayat ini menunjukkan ‘prinsip dasar keadilan dalam Islam’, bahwa iman tidak boleh diukur dengan kekayaan atau status duniawi, melainkan keikhlasan hati dan ketundukan kepada Allah.
Empat Pelajaran dan relevansi ayat 30 surah Hud ini:
- Keimanan tidak ditentukan oleh status sosial. Dalam Islam, kedudukan manusia dinilai berdasarkan ketakwaannya, bukan pangkat atau hartanya.
- Dakwah tidak boleh dikompromikan dengan tekanan sosial atau politik. Ketegasan Nabi Nuh menunjukkan bahwa prinsip kebenaran tidak tunduk kepada kekuasaan atau elitisme.
- Takut kepada Allah harus lebih besar dari takut kepada manusia. Seorang harus menyadari bahwa pertanggungjawaban utama adalah kepada Allah, bukan kepada manusia.
- Seseorang atau Pemimpin harus adil dan menjaga integritas. Tidak ada kompromi dalam keadilan. Mengusir orang karena mereka miskin adalah kezaliman dan bertentangan dengan nilai Islam.
Arti Al-Qur’an Surah Hud ayat 31, “Dan aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku mempunyai perbendaharaan Allah, dan tidak (pula) mengetahui yang gaib, dan tidak (pula) aku mengatakan bahwa aku adalah malaikat; dan aku tidak mengatakan tentang orang-orang yang dipandang hina oleh matamu bahwa Allah tidak akan memberikan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam diri mereka; sesungguhnya aku kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 31)
Ayat ini merupakan lanjutan bantahan Nabi Nuh terhadap kaum bangsawan yang mempertanyakan kenapa dia dan para pengikutnya tidak memiliki kekayaan atau mukjizat fisik sebagai bukti kenabian. Nabi Nuh menjelaskan bahwa ‘kenabian bukanlah jabatan prestise atau materi’, melainkan amanah spiritual. Ia bukan malaikat, tidak mengetahui hal gaib, dan tidak memiliki kekayaan yang dijanjikan Allah.
Lebih jauh lagi, Nabi Nuh menolak sikap merendahkan orang miskin atau memandang mereka tidak layak mendapat kebaikan dari Allah. Ia menegaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui isi hati manusia dan menentukan siapa yang layak menerima petunjuk. Menolak mereka karena penampilan atau status sosial adalah bentuk kezaliman.
Pelajaran dan relevansi ayat 31 surah Hud ini adalah:
- Kebenaran tidak ditentukan oleh kekayaan atau status. Banyak nabi dan orang saleh justru hidup sederhana, namun tinggi dalam derajat iman.
- Nabi-nabi Allah adalah manusia biasa dengan misi spiritual. Mereka bukan makhluk mistis, tapi hamba Allah yang membawa risalah ilahi.
- Dakwah Islam tidak memihak kelas sosial tertentu. Islam adalah rahmat bagi semua golongan, tanpa diskriminasi.
- Hanya Allah yang tahu isi hati manusia. Kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari lahiriahnya.
- Menghina orang karena kemiskinan adalah tindakan zalim. Dalam Islam, kezaliman termasuk menganggap rendah seseorang hanya karena keadaan duniawinya.
Kesimpulan: Islam adalah agama keadilan dan kesetaraan.
Kajian tafsir yang disampaikan Rois Mahfud menegaskan bahwa agama Islam menolak diskriminasi dalam bentuk apa pun, termasuk yang bersumber dari kelas sosial. Nabi Nuh menjadi teladan dalam menjaga integritas dakwah, menghadapi tekanan dari elit sosial, dan tetap membela kaum lemah yang beriman.
Dalam konteks kekinian, pelajaran dari ayat ini menjadi sangat relevan bagi para dai, pemimpin umat, pendidik bahkan diri pribadi: “dakwah harus tetap berpihak pada nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan keberpihakan kepada kebenaran”, bukan kepada kepentingan politik atau ekonomi.
“Sungguh, Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal perbuatanmu.” (HR. Muslim)
---
Isi kajian ditulis kembali dengan bahasa yang berbeda oleh: Muslimah sekretaris PWA Kalteng